Hai,
Hari ini aku kembali menuliskan beberapa bait tulisan, sebagai kenangan, dan sebagai luapan kerinduan kepada Paman & Bibi kami tercinta.
Ntah,
mungkin karena takdir kembali mengingatkan bahwa ada satu cara untuk mengenang, dengan cara yang indah.
Thanks to Kak Zizah, yang me-remind bahwa aku punya blog yang bisa dipergunakan untuk kembali kerutinitas dahulu.
Hari ini, 13 Januari 2026
Tepat satu tahun kepergian Om Dony dan Tante Linda.
Dua insan yang saling mencintai hingga takdir memberikan mereka kesempatan untuk berpulang dengan jalan yang sama.
Tahun lalu, dini hari puluhan dering telepon tak terangkat karena mode jangan ganggu yang dengan sadar ku aktifkan, sebab keegoisan hati yang tak ingin di ganggu oleh manusia lainnya.
Beruntung masih ada telepon pulsa yang dering pertamanya mengkatifkan nada panggilan di handphone ku.
Namun, sempat ku benci karena memecahkan harapan bahwa yang semua yang terjadi adalah Nyata.
Tahun lalu, hampir lima hari hujan tak berhenti mengguyur Kota Batam
Disertai dengan riuhan angin yang tak bisa ku deskripsikan.
Andai bekerja bukan kewajiban, mungkin satu minggu itu aku gak bakalan keluar dari kamar kos, bertahan dengan berbungkus-bungkus indomie di kamar.
Tapi dini hari itu, banyak informasi yang tak dapat ku cerna dengan baik
ragam gerak reflek yang tak ku duga,
menyambar hijab, jaket, baju hujan dan kunci motor
dengan sigap hendak pergi menuju ke Tiban, daerah yang lama ku tinggalkan sebab terlalu jauh dengan posisi tempat kerja.
Rupanya, rumah om tante sudah tak berbentuk
Kamar tempat ku beristirahat adalah titik utama rebahan tanah
Awalnya banyak ucapan syukur ku lantunkan karena adikku, satu-satunya adikku sudah di temukan dan berada di rumah sakit untuk perawataan yang lebih memadai
Namun, berganti dengan penuh lantunan doa sebab kedua orang tua ku di Batam ini, masih saja belum ditemukan
Tetangga silih berganti memintaku pergi kerumah sakit untuk menemai adikku
dan saat itu juga UGD menjadi traumaku di 2025, dan hujan menjadi yang terburuk diantaranya
waktu bergulir cepat, hingga pagi menyambut dengan penuh wajah duka
Saat itu, kami sadar bahwa beliau mungkin sudah medahului kami
Doa kamipun berganti "Paling tidak kami bisa mengantarkan beliau-beliau ke peristirahatan terakhir"
Hingga senja menyapa, tak kunjung kabar itu terdengar
Pencarian alot yang disebabkan oleh banyaknya volume tanah dan kondisi hujan yang semakin parah, membuat kami kehilangan harapan kecil itu
Namun kuasa Tuhan menunjukkan semuanya, hingga kami dapat menjalankan tugas kami
Fardu kifayah yang sebetulnya tak kuharapkan terjadi sekarang.
Keputusan terberat di awal tahun 2025 adalah aku memutuskan untuk tidak berangkat untuk mengantarkan hingga selesai sebab dunia masih harus berjalan, aku memutuskan untuk menerima sebagai besar tugas yang harus ku selesaikan disini, demi Adikku.
Duka milik dekpran mungkin lebih besar dari pada duka ku,
tapi ini bukan mengenai ukur mengukur duka kan ?
Setahun sudah, banyak hal terjadi
Banyak kedewasaan yang memaksaku menyemputnya
Mungkin kemarin aku mengeluh mengapa ini terjadi
Mungkin kemarin aku marah mengapa bukan aku yang dipanggil
Mungkin kemarin aku sedih mengapa harus kami yang ditunjuk
Namun sekarang aku sadar,
Bahwa Tuhan sudah memilih kami,
bahwa Tuhan sudah menetapkan kami
Dan mempercayai kami
Adikku,
kamu bukan bebanku
kamu bukan orang asing di hidupku
tapi kamu adalah anugerah di hidupku
kamu adalah penguatku
dan alasanku untuk tetap berjuang di kota asing ini.
Batam mungkin tidak pernah terpikir akan hadir dihidup ku,
namun mungkin aku akan menghabiskan hidupku di kota ini.
Batam dan setiap langkahku disini,
Selalu terukir kisah kami bersama
Om, Tante
Semoga kalian bahagia disana,
semoga nikmat barzah selalu kalian rasakan
maafkan aku jikalau belum baik mendidik dekpran,
maafkan aku belum pantas menggantikan kalian berdua
Beristirahatlah dalam keadaan penuh cinta...













